Profil HSP Pusaka

HSP Pusaka merupakan sebuah workshop yang berfokus pada pembuatan, perawatan, dan pengembangan pusaka tradisi—khususnya Badik Sulawesi.

Bagi kami, setiap karya bukan sekadar benda fisik, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan material pilihan, ketelitian pengerjaan, dan pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai yang menyertainya.


Perjalanan & Arah

HSP Pusaka tidak dibangun secara instan. Ia tumbuh dari proses belajar yang konsisten: mengamati, mencoba, memperbaiki, dan memahami.

Dalam setiap prosesnya, kami tidak hanya mencari bentuk yang estetis, tetapi juga keselarasan antara:

  • Karakter bahan
  • Struktur bilah
  • Rasa dari pusaka itu sendiri

Cara Pandang

Pusaka adalah titik temu antara material, proses, dan cara memahami.

Setiap karya di HSP Pusaka tidak diarahkan untuk sekadar “indah” secara visual, melainkan untuk memiliki karakter yang matang dan tidak dipaksakan. Kami mengutamakan integritas karya di atas tren sesaat.


Mengenal HSP

Awal yang Tidak Direncanakan

Lahir dan besar di Makassar, ketertarikan terhadap badik bermula sejak usia sangat dini—bahkan sebelum memahami maknanya secara utuh. Perkenalan pertama terjadi secara sederhana: melihat badik milik orang tua.

Bukan sebagai objek kajian, melainkan sebagai sesuatu yang diperlihatkan—dan perlahan membekas. Seiring waktu, ketertarikan itu tidak hilang. Justru tumbuh bersama pengalaman: melihat langsung, mendengar kisah dari keluarga, dan menyadari bahwa badik bukan sekadar benda, melainkan bagian dari warisan yang berpindah lintas generasi.

Masa Jeda dan Kembali Mendekat

Memasuki masa dewasa awal, ketertarikan itu sempat bergeser. Aktivitas lain mengambil porsi lebih besar, termasuk pekerjaan di sektor perbankan dan minat di bidang lain. Namun, hubungan dengan badik tidak benar-benar terputus—hanya menjauh sementara.

Hingga akhirnya, sekitar tahun 2012, mulai terjadi pendekatan kembali secara lebih sadar. Bukan lagi sekadar ketertarikan, tetapi mulai masuk ke tahap pencarian. Melihat langsung di lapangan, mengamati berbagai bentuk, serta mulai membangun relasi dengan sesama penggiat dan kolektor.

Pendalaman: Dari Melihat Menjadi Memahami

Dari situ, proses berubah. Tidak lagi sekadar mengoleksi, tetapi mulai mengamati anatomi dan morfologi, memahami karakter bilah, memperhatikan kesesuaian gagang dan sarung, serta menelusuri nilai di balik tiap bentuk.

Ketertarikan kemudian mengarah pada aspek yang lebih teknis, termasuk pemahaman terhadap metalurgi. Untuk memahami pusaka lama, pendekatan dilakukan melalui praktik pada pembuatan baru—dengan melibatkan pandai besi dan pengrajin yang mampu menerjemahkan gagasan teknis menjadi bentuk nyata. Di titik ini, peran mulai bergeser: dari penikmat, menjadi pengarah dan perancang.

Titik Balik: Dari Ketertarikan Menjadi Jalan

Seiring bertambahnya pengalaman dan kedalaman pemahaman, muncul satu keputusan penting: meninggalkan pekerjaan kantoran, dan menekuni jalur ini secara penuh.

Bukan sekadar membuat, tetapi merancang karya, mengatur komposisi, menjaga kesesuaian pakem, serta memastikan nilai tetap terjaga. Dengan melibatkan kolaborasi pandai besi dan pengrajin kayu. Sementara untuk bagian aksesoris, khususnya ornamen perak seperti sumpa, kalasa, dan tabbu-tabbu, dikerjakan secara langsung dalam lingkup workshop sendiri. Pendekatan ini membuat setiap karya tidak hanya terarah dari sisi konsep, tetapi juga terjaga dalam detail pengerjaan.

Dari Karya ke Edukasi

Perjalanan tidak berhenti di karya. Melihat minimnya informasi yang tepat—terutama di ruang publik digital—muncul dorongan untuk mulai berbagi melalui media sosial hingga YouTube, dengan fokus: edukasi, dokumentasi, serta pelurusan pemahaman.

Respons yang muncul memperluas jangkauan dan menghadirkan permintaan yang tumbuh secara alami melalui pemahaman, bukan dorongan penjualan. Dalam praktiknya, sebagian karya lahir dari arah dan proses yang telah dirancang sebelumnya, dan tersedia dalam kondisi siap.

HSP Pusaka Hari Ini

HSP Pusaka berkembang sebagai ruang yang menggabungkan karya, kajian, dokumentasi, dan kurasi. Dengan pendekatan utama: mengikuti pakem, menjaga karakter, dan mempertahankan nilai. Di saat yang sama, tetap terbuka pada kebutuhan tertentu melalui pendekatan yang terarah.


“Tidak semua badik layak untuk dijadikan karya. Dan tidak semua karya ditujukan untuk semua orang. Karena pada akhirnya, yang dijaga bukan sekadar bentuk—tetapi nilai yang menyertainya.”

(Dikelola oleh HSP, inisial dari pengkaji, perancang, dan pengolah di balik HSP Pusaka.)


Untuk terhubung dengan berbagai kanal dokumentasi dan media sosial layanan kami, silakan kunjungi Pusat Akses

Bagi Anda yang ingin berdiskusi lebih lanjut, melakukan pemesanan, atau membutuhkan layanan teknis lainnya, silakan merujuk pada halaman Panduan Layanan berikut:

Scroll to Top